Mengulik Kisah Geothermal Energy di Indonesia

Oleh Tunggul Mirza Pratama (Teknik Geologi 2017)

Geothermal merupakan salah satu energi baru terbarukan atau renewable energy, yang berarti ketersediaannya dapat diperbarui. Hal tersebut dikarenakan bumi cukup baik dalam mempertahankan sejumlah energi panas yang dihasilkan selama pembentukan planet ini. Selain itu, panas terus diproduksi oleh peluruhan unsur radioaktif di dalam bumi. Jumlah panas di dalam bumi, dan jumlah yang hilang melalui proses alami seperti aktivitas vulkanik, konduksi/radiasi ke atmosfer jauh lebih banyak dari pada panas yang hilang melalui produksi panas bumi [1].

Keuntungan dari energi panas bumi ini adalah harganya yang tidak dipengaruhi oleh harga minyak dunia dan ramah lingkungan. Umumnya, tidak semua negara memiliki potensi energi panas bumi, hanya negara yang menjadi jalur gunung api dunia atau ring of fire yang memiliki potensi panas bumi yang baik. Indonesia adalah salah satu pemilik potensi panas bumi yang baik, terindikasi dari keberadaan 117 gunung api aktif yang menyebar di seluruh penjuru negeri. Energi panas bumi di Indonesia telah diestimasi sebesar 40% dari potensi energi panas bumi dunia atau sekitar 28.617 MW [4].

KnowledgeE. https://knepublishing.com/index.php/KnE-Energy/article/view/325/1239. (18 April 2019)

Berdasarkan Specific Exergy Index (SExI) atau besarnya energi yang dapat dimanfaatkan, dengan klasifikasi Low Exergy (SExI<0,05), Medium Exergy (0,05<SExI<0,5), dan High Exergy (SExI>0,5), telah didapatkan data 89% lapangan panas bumi Indonesia termasuk kategori High Exergy, dan 11% termasuk dalam Medium Exergy dengan persebaran lapangan pada pulau Jawa (80%), Sumatra (11%), Sulawesi (8%), dan Bali-Nusa Tenggara (1%). Data tersebut diambil dari 11 lapangan operasi geothermal di Indonesia, yaitu Ulumba, Darajat, Kamojang, Lahendong, Wayang Windu, Patuha, Dieng, Gunung Salak (High Exergy) dan Siabak, Ulu Belu, Mataloko (Medium Exergy). Hanya 177 MW (11%) yang masih berada pada level Medium dari total lapangan operasi (1533,5 MW) [2].

Saat ini, Indonesia harusnya berbangga karena 2 dari 5 lapangan panas bumi di dunia dengan sistem dominasi uap ada di negeri ini. Sistem dominasi uap memiliki keunggulan yaitu nilai entalphy lebih tinggi sehingga energi untuk memutar turbin lebir besar, dan mengalir secara mudah “self flowing” ke permukaan sehingga tidak perlu pompa. Lapangan tersebut adalah Kamojang dan Darajat. Sedangkan, 3 lapangan lainnya berada di Larderello (Italia), The Geysers (California, USA), dan Matsukawa (Jepang) [3]. Indonesia memang memiliki
potensi yang baik dalam industri panas bumi. Namun, masih sekitar 5% dari total potensi panas bumi di Indonesia atau sekitar 1533,5 MW yang telah beroperasi dan digunakan sebagai pembangkit energi listrik di negeri ini.

Saat ini pemerintah sedang berencana merealisasikan target kapasitas panas bumi Indonesia mencapai 9500 MW di tahun 2025 [4]. Masih banyak tantangan yang perlu dihadapi dalam pengembangan industri panas bumi di Indonesia. Salah satu tantangan yang terbesar adalah penolakan masyarakat yang didasari oleh berbagai hal, diantaranya ketakutan akan human error dalam proyek geothermal sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan, dll. Perlu adanya sosialisasi yang lebih mendalam kepada masyarakat sekitar daerah prospek geothermal. Sebagai generasi muda, peran yang dapat kita lakukan untuk membantu pemerintah adalah berpartisipasi dalam sosialisasi untuk memberitahu tentang manfaat geothermal pada warga sekitar serta memberi pemahaman bahwa jika kita selalu terjerumus dalam ketakutan akan human error, maka inovasi akan sulit tercipta di negeri ini.

 

Referensi:
[1] American Geosciences Institute. (2019). Why is geothermal energy a renewable resource? Can it be depleted?. https://www.americangeosciences.org/critical-issues/faq/whygeothermal-energy-renewable-resource-can-it-be-depleted. (24 Maret 2019)
[2] Bina, Jalilinasrabady, Fujii, Pambudi. (2018). Classification of Geothermal Resources in Indonesia by Applying Exergy Concept. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 93, 499-506: Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/j.rser.2018.05.018.
[3] Hadi, Julfi. (2001). The Darajat Geothermal Field Conceptual Model, A Vapor Dominated System. Yogyakarta: The 5th INAGA Annual Scientific Conference & Exhibitions.
[4] Nasruddin, Alhamid, Daud, Surachman, Sugiyono, Aditya, Mahlia. (2015). Potential of Geothermal Energy for Electricity Generation in Indonesia: A Review. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 53, 733-740: Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/j.rser.2015.09.032.