Palu Post Disaster Scientifical Visit by Universitas Pertamina

Pada tanggal 3 Januari 2019 tim universitas pertamina yang terdiri atas Dr. Farah Mulyasari, Dr. Eng Resti S. Jatiningrum, Dr. Abang Mansyusrsyah Surya Nugraha dan Husni Mubarak Lubis MSc. Melaksanakan fieldtrip ke lokasi-lokasi bencana geologi di Palu dan sekitarnya. Fieldtrip ini di lakukan Bersama dengan tim satgas kementrian PUPR dan tim Geologi Universitas Tadulako.

Tim berkesempatan mengunjugi lokasi bencana longsoran yang disebabkan oleh likuifaksi. Dari hasil diskusi dengan tim PUPR, Universitas Tadulako dan penduduk sekitar diketahui bahwa lokasi yang terkena bencana dulunya merupakan salah satu daerah pemukiman yang padat penduduk. Lokasi ini memiliki muka air tanah yang cukup dangkal (< 5 meter) sehingga menjadi salah satu tempat pilihan pemukiman penduduk karena kemudahan mendapatkan air bersih dengan sumur bor yang dangkal.

Berkaitan dengan likuifaksi dan bencana longsor yang disebabkannya, kami dapat mengamati fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa lokasi longsor akibat likuifaksi dipengaruhi oleh muka air tanah yang dangkal, lokasi di lereng kaki kipas alluvial, lapisan batuan yang tidak kompak (loose), saluran air irigasi yang terletak di bagian timur dari lokasi kejadian dan gempa bumi yang memicu terjadinya likuifaksi. Selain adanya kemiringan lereng, lapisan batuan/sedimen yang sejajar dengan dengan kemiringan lereng juga membuat lereng semakin tidak stabil.

Pengamatan terhadap jenis sedimen di Petobo, pada lapisan teratas di dominasi oleh lapisan batupasir halus dan batulanau sedangkan dibagian bawahnya di dominasi oleh konglomerat yang berukuran kerikil dengan kekompakan sedang atau mudah lepas dibandingkan lapisan batupasir dan batulanau diatasnya. Tidak terlihat adanya bukti gangguan pada lapisan ini menunjukkan bahwa lapisan batuan yang tersingkap di lapangan merupakan bagian dari lapisan sedimen tak jenuh yang ditembus oleh lapisan jenuh air.

 

Lokasi longsor akibat likuifaksi di Balaroa

Pergerakan massa batuan atau lapisan sedimen juga terjadi di daerah balaroa. Sedikit berbeda dengan pergerakan massa di Petobo, tidak terdapat saluran irigasi dibagian atas lokasi pergerakan massa Balaroa dan kemiringan lereng yang lebih terjal dibandingkan dengan lereng di Petobo. Berdasarkan pengamatan geologi di Balaroa, ukuran sedimen di daerah ini lebih besar dibandingkan dengan ukuran sedimen yang terdapat di daerah Petobo. Terdapat bongkah-bongkah besar batuan beku pada lapisan sedimennya. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa lokasi petobo lebih menunjukkan lokasi yang lebih jauh dari sumber (distal) sedangkan lokasi Balaroa merupkan bagian proksimal dari suatu kipas alluvial.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Bellier dkk. (2001) menunjukkan bahwa lokasi lonsoran Balaroa terletak pada suatu system aluvial muda yang berumur kurang lebih 11.000 tahun. Sedangkan pemukiman lebih tinggi di bagian barat lokasi longsor tidak terkena bencana dikarenakan terletak di aluvial fan yang lebih tua (~125.000 tahun, Bellier dkk., 2001). Hal ini menunjukkan bahwa lapisan sedimen yang berumur muda relative lebih rentan terhadap likuifaksi dan longsor dibandingkan dengan sedimen yang lebih tua.

 

 

Secara umum, bencana alam yang terjadi di Petobo, Jono Oge, dan Balaroa terjadi karena pergerakan lapisan batuan/tanah (mass wasting) menuruni lereng yang disebabkan oleh proses likuifaksi dipicu dengan adanya gempa berkekuatan tinggi. Kemiringan lereng ini dipengaruhi oleh gunung yang dibentuk oleh sesar Palu Koro.

Lokasi Bukti sesar mendatar Palu-Koro

Tim UP juga berkesempatan melihat bukti-bukti rekahan yang disebabkan oleh sesar geser Palu-Koro. Sesar Palu-Koro merupkan salah satu sesar paling aktif di Indonesia dengan dengan kecepatan gerak maksimum sekitar 40-50 mm/tahun. Dari rekahan permukaan yang dapat dilihat dilapangan menunjukkan segmen pergerakan sesar palu koro yang mengiri.

Rencana PKM bidang geologi dan geofisika

Berdasarkan hasil rapat yang dilakukan pada tanggal 2 Januari 2019 dengan kementrian PUPR dan Forum Group Discussion (FGD) yang dilakukan pada tanggal 4 Janurari 2019 dengan kementrian PUPR, Pemerintah Daerah dan Universitas Tadulako diusulkan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan berupa penilitian mengenai umur dari lapisan sedimen pada daerah yang mengalami likuifaksi serta persebarannya terhadap potensi bahaya likuifaksi dan longsor di daerah sekitarnya.

Hal tersebut dihasilkan dari hasil diskusi tentang belum adanya penelitian khusus yang dilakukan tentang sedimentologi, umur dan stratigrafi di daerah rawan likuifaksi. Kami mengajukan kegiatan PKM berbasis penelitian untuk melakukan karakterisasi sedimentologi dan stratigrafi (termasuk penentuan umur) alluvial fan dengan metode geologi dan geofisika. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap penelitian-penelitian yang sudah dan sedang dilakukan terkait kegempaan dan likuifaksi di Palu. Hasil yang diharapkan berupa peta persebaran secara lateral dan kolom stratigrafi vertikal dari endapan kipas alluvial di cekungan palu, umur relative dan mungkin umur absolutnya serta pengaruhnya terhadap bidang ilmu lainnya seperti hidrogeologi, keteknikan dan bencana geologi.

Pengukuran Ketahanan Bencana (Disaster Resilience Assessment)

Salah satu kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengmas) yang dilakukan oleh Tim dari Universitas Pertamina (UP) dari tanggal 2 sampai dengan 4 Januari 2019 adalah penjajagan dengan Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Bappeda Kota Palu, Bappeda Kabupaten Donggala, dan Bappeda Kabupaten Sigi untuk melaksanakan pengukuran ketahanan bencana di wilayah yang terkena dampak Bencana Gempa Bumi, Tsunami, dan Likuifaksi di Provinsi Sulawesi Tengah.

Dampak bencana di wilayah tersebut diatas melatarbelakangi Tim Pengmas UP untuk melakukan pengukuran ketahanan bencana akibat dampak dari Bencana Gempa Bumi, Tsunami, dan Likuifaksi yang telah terjadi pada 28 September 2018 yang lalu. Pertanyaan yang Tim Pengmas UP ajukan adalah bagaimana kita mengukur tingkat ketahanan kota/kabupaten terhadap bencana alam? Bagaimana kita mengidentifikasi/melokalisasi inisiatif pengurangan risiko dan ketahanan bencana? Pertanyaan-pertanyaan kunci penting lainnya yang terkait dengan status tingkat ketahanan dan kapasitas kota adalah; sektor apa saja dari kota/kabupaten yang memiliki risiko bencana tinggi? Bagaimana kota/kabupaten menyampaikan hasil penilaian ketahanan dan informasi risiko bencana kepada public dan masyarakat setempat? Bagaimana tindakan atau aksi pengurangan risiko yang tepat, dapat diimplementasikan? Apa jenis pendekatan komunikasi risiko yang dapat diidentifikasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi?

Metoda pengukuran ketahanan bencana tersebut berasal dan diadaptasi dari metoda CDRI yang dikembangkan oleh berbagai peneliti di Lingkungan Environment and Disaster Management (IEDM) Laboratory, Graduate School of Global Environmental Studies, Universitas Kyoto, Jepang, dimana salah satu anggota Tim Pengmas UP adalah salah satu peneliti yang mengembangkan metoda tersebut pada saat di Kyoto. Sejauh ini, 33 kota di kawasan Asia; 12 kota di India, 10 zona Chennai City, 9 kabupaten di Delh, serta Kota dan seluruh kecamatan di Kota Bandung telah diukur ketahan bencananya.

Metoda pengukuran ketahanan bencana tersusun dari lima (5) dimensi: fisik, sosial, ekonomi, kelembagaan, dan alam/lingkungan. Setiap dimensi terdiri dari lima parameter dan masing-masing parameter menggambarkan 25 variabel. Singkatnya, pengukuran ketahanan bencana menganalisis ketahanan bencana pada 125 (5x5x5) variabel yang terukur. Setiap parameter dievaluasi pada lima tingkat skor dari 1 (paling buruk) sampai 5 (terbaik). Setelah mengevaluasi parameter, masing-masing variabel di bawah parameter tertentu dibobotkan untuk proses prioritas pada skala 1 (tidak penting) sampai 5 (sangat penting). Data, kemudian akan dianalisis dengan menggunakan Weighted Mean Index (WMI) untuk skor ketahanan parameter dan Average Weighted Mean Index Index (AWMI) dipergunakan untuk skor ketahanan dimensi. Dengan demikian, nilai yang dihitung dari AWMI dari satu dimensi mendefinisikan ketahanan bencana dari dimensi tertentu. Skor ketahanan bencana bervariasi dari 1 (sangat buruk) sampai 5 (terbaik) dan disajikan terbaik dalam bentuk diagram jaring (spider diagram) untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing parameter dan juga untuk menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari dimensi yang berbeda; dari segi parameter dan variabel di daerah perkotaan dan kabupaten. Selain itu, analisis statistik untuk menganalisa hubungan antara dimensi, parameter, dan variabel, memiliki potensi untuk mengembangkan hubungan antara aspek yang berbeda; selain memetakan hasil indeks ketahanan bencana yang dilakukan. Semakin tinggi nilai ketahanan, berarti semakin tinggi pula kesiapan yang harus dirancang dan dilakukan dalam mengatasi bencana dan dampaknya, sekaligus tindakan pengurangan risiko bencananya. Tabel di bawah ini menggambarkan dimensi dan parameter dari ketahanan bencana.

Metoda usulan pengukuran ketahanan bencana tersebut dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang difasilitasi dan bertempat di Kantor Satgas PUPR Bencana Palu, Donggala, dan Sigi di Kota Palu pada tanggal 4 Januari 2019. Rencana kedepan, pengukuran ketahanan bencana tersebut akan berupa penyebaran Survey Kuesioner yang memuat 125 (5x5x5) variabel dari dimensi dan parameter ketahanan bencana, sebagaimana yang tertera dalam tabel diatas, kepada semua pemerintahan kecamatan di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi. Di dalam pelaksanaannya, dukungan dari Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Bappeda Kota Palu, Bappeda Kabupaten Donggala, dan Bappeda Kabupaten Sigi sangat diharapkan.