Pembangunan Berkelanjutan

Sustainable Development Goals (SDGs) yang dirumuskan pada tahun 2015 oleh United Nation memiliki tujuan untuk pembangunan yang berkelanjutan, memperhatikan kebutuhan saat ini dan menjamin ketersediaan sumber daya alam dan lingkungan untuk masa mendatang.

Terdapat 17 Goals yang dituju melingkupi: No Poverty, Zero Hunger, Good Health & Well-Being, Quality Education, Gender Equality, Clean Water & Sanitation, Affordable & Clean Energy, Decent Work & Economic Growth, Industry, Innovation, & Infrastructure, Reduced Inequalities, Sustainable Cities & Communities, Responsible Consumption & Production, Climate Action, Life Below Water, Life On Land, Peace, Justice, & Strong Institutions, and Partnerships for the Goals.

Source: UN

Pembangunan berkelanjutan tidak terlepas dari situasi kehidupan yang semakin berkembang, di antaranya persoalan jumlah penduduk. Interaksi manusia dengan lingkungan akan mempengaruhi kualitas lingkungan. Tidak terkecuali di daerah perkotaan yang mana laju urbanisasi akan semakin meningkat. Merujuk Supas (2015), pertambahan penduduk Indonesia akan semakin meningkat hingga tahun 2045, termasuk jumlah penduduk kota. Saat ini Indonesia menempati posisi ke-4 jumlah penduduk terbanyak di dunia.

Pertambahan penduduk Indonesia diduga akan meningkat sekitar 65 juta dibandingkan 2015 dan sebanyak 67,10% di antaranya akan tinggal di kawasan perkotaan. Persoalan lain adalah, pusat kepadatan akan berkumpul di Pulau Jawa. Pengelolaan urbanisasi yang baik akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Sejauh ini, hal yang dikritisi adalah layanan dasar yang kurang bisa diakses untuk kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar seperti air pipa, sanitasi, dan perumahan. Hal ini berkontribusi besar untuk permasalahan di perkotaan.

Dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, banyak ahli dan pembuat kebijakan sepakat belum banyak aspek-aspek geologi yang dilibatkan. Hal ini juga senada dengan SDG bahwa aspek geosaintis memegang peranan yang inti dalam menjamin kelangsungan pembangunan berkelanjutan. Mengambil kasus Bendungan St. Francis di Amerika pada 1920-an lalu yang menewaskan banyak korban karena kurangnya perhatian aspek geologi dalam pembangunan. Saat ini isu-isu lingkungan juga berkaitan dengan kondisi geologi di suatu wilayah. Demikian juga dengan bagaimana tata ruang wilayah yang didukung oleh aspek kebumian. Menurut Prof. Deny Juanda Puradimaja, bahwa aspek fisik kebumian ini harus dimasukkan dalam pengelolaan tata ruang.

Geographic Information System (GIS) memegang peranan dalam mendukung SDG ini. GIS diketahui merupakan sistem yang mampu mengolah data spasial serta memberikan banyak insight dari pemanfaatannya untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik. Secara sederhana, berbicara kasus pencarian lokasi pembuangan limbah nuklir di UK, dilakukan dengan melakukan siting criteria memanfaatkan beberapa layer peta untuk menentukan lokasi pembuangan nuklir.

Source: Openshaw dkk. (1989)

Geographic Information System (GIS) bisa diibaratkan seperti kue lapis yang merepresentasikan dunia nyata melalui beberapa peta tematik. Dalam sebuah kawasan perkotaan sebagai contoh, tumpang tindih dari peta pelanggan, peta jalan, peta lahan, peta elevasi, dan tata guna lahan mampu menyusun sebuah layer wilayah perkotaan.

Dalam mendukung SDG, banyak sekali aspek spasial yang bisa dipermudah analisisnya dengan menggunakan GIS. Sebagai contoh, dalam mendukung aspek lingkungan dalam kejadian gerakan tanah, GIS mampu menyimpan informasi spasial dari beberapa faktor kausatif untuk kemudian dipadukan secara statistik bivariate menghasilkan peta kombinasi dari layer-layer tersebut untuk menjadi peta kerentanan gerakan tanah.

Source: Misbahudin (2020)

Peta kerentanan gerakan tanah Gunung Salak dan sekitarnya (Misbahudin, 2020)

Dalam hal ini, keuntungan GIS untuk pembangunan berkelanjutan berupa terorganisasinya data dengan lebih baik, menghilangkan redundansi dalam penyimpanan data, dan meningkatnya produktivitas.  Pada akhirnya analisis, staistik, dan pencarian akan menjadi lebih mudah dan akurat. Hal ini untuk mendukung keputusan yang lebih baik oleh pengguna.

Berkaitan dengan SDG, pemerintah Indonesia melalui Bappenas telah membuat sebuah tampilan dashboard terkait data SDG dan perkembangannya.

Link: http://sdgs.bappenas.go.id/dashboard

Sebagai upaya membangun secara bersama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Pertamina membentuk Center of Excellence. Pusat Studi yang ada berfokus pada energi dan geosains. Terdapat dua pusat kajian, yaitu Center for Sustainable Energy dan Center for Sustainable Geosciences.

Sumber: Center for Sustainable Geosciences Universitas Pertamina